Pada kesempatan kali ini, saya akan menceritakan
pengalaman saya saat mengunjungi makam raja - raja yang ada di Kota Gede.
Tepatnya pada tanggal 11 September 2015 saya berkesempatan untuk melakukan
kegiatan pembelajaran di luar kelas sekaligus praktik guiding di kawasan Kota
Gede.
Makam
raj - raja di Kota Gede merupakan kompleks makam raja pendiri kerajaan Mataram
Islam pertama. Tokoh - tokoh yang dimakamkan dalam kompleks makam raja ini
yaitu Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya, Panembahan Senopati beserta
keluarganya.
Letak kompleks makam ini erjarak sekitar 100 meter
dari pasar Kota Gede, tepatnya di Dusun Dondongan, Desa Jagalan Kota Gede,
Bantul, Yogyakarta. Akses menuju kompleks makam ini tidak lah sulit, anda bisa
menggunakan mobil pribadi ataupun sepeda motor. Pada saat saya mengunjungi
kompleks makam Kota Gede saya beserta teman - teman didampingi guru kami
menggunakan sepeda motor dan memakirkan kendaraan kami di halam parkir Masjid
Kota Gede.
Ketika kami memasuki halaman parkir Masjid, ada sebuah
objek yang sangat menarik perhatian saya. Saya melihat sebuah pohon beringin
yang sangat besar dan sudah terlihat sangat tua masih berdiri kokoh. Menurut
sumber yang kami ketahui, pohon beringin ini berumur sekitar 500 tahun. Pohon
yang memiliki ketinggia 30 meter ini konon ditanam langsung oleh Sunan
Kalijaga.
Kami memutuskan untuk istirahat sejenak dan sebagian
dari kami termasuk saya melakukan praktik guiding di depan pohon beringin
tersebut.
| Pohon beringin yang ada di depan kompleks makam |
| Seorang teman saya sedang melakukan praktik guiding |
Selesai di Pohon Beringin, kami
memasuki kompleks makam. Bangunan bernuansa khas Jawa sangat terlihat pada
setiap sisi bangunan. Corak hindu juga masih sangat terlihat, hal ini
dibuktikan dengan adanya sebuah gapura yang bernama Paduraksa.
Suasana tenang dan sunyi sangat terasa saat berada di
dalam kompleks. Terlihat beberapa abdi dalam berjaga didepan pintu masuk makam
lengkap dengan busana adat Jawa. Untuk Informasi, jika anda ingin mengunjungi
Kompleks Makam Kota Gede ini, sebaiknya anda datang pada hari Minggu, Senin,
Kamis, dan Jumat. Karena hanya pada hari itu pengunjung diperbolehkan masuk.
Untuk menghormati kebudayaan setempat, kita diwajibkan
untuk mengenakan pakaian adat Jawa saat memasuki kompleks makam.
| Bagi perempuan mengenakan kemben dan Jarik |
| Laki - laki mengenakan sorjan |
Sebelum masuk ke area pemakaman, kami diminta untuk tidak membawa apapun kedalam makam, termasuk ponsel dan kamera. Suasana spritual sangat terasa ketika kami memasuki area pemakaman, terlebih saat kami memasuki sebuah rumah yang ada di tengah pemakaman. Kami melihat beberapa orang yang sedang melakukan ziarah di makam beberapa tokoh. Tokoh - tokoh yang berperan besar dalam pendirian kerajaan Mataram Islam dimakamkan di dalam rumah berserta kerabat dekat. Sedangkan makam yang ada di luar rumah diperuntukkan untuk kerabat jauh kerajaan.
Hal yang menjadi perhatian saya yaitu terdapat sebuah
makam yang berada didalam rumah tetapi disisi lain makam tersebut berada di
luar rumah. Makam tersebut merupakan makam Ki Ageng Mangir.Dalam sebuah cerita
di kisahkan Ki Ageng Mangir merupakan menantu sekaligus musuh dari Panembahan
Senopati, makadari itu sebagian makam Ki Ageng Mangir berada di dalam tembok
pemakaman yang menandakan bahwa beliau merupakan anggota kerajaan dan sebagian
berada di luar tembok yang menandakan bahwa beliau merupakan musuh kerajaan.
Pesona kompleks makam Kota Gede juga terlihat pada
sisi halaman kompleks, Di samping kompleks
makam, kita juga dapat melihat tempat pemandian atau disebut sendang. Sendang
tersebut ada yang merupakan pemandian khusus pria dan wanita. Konon, air untuk
pemandian pria diperoleh dari sumber di dalam kompleks makam. Sementara, air
untuk pemandian wanita, diperoleh dari sumber pohon beringin di depan gerbang
utama.
Kita juga dapat melihat ikan-ikan, termasuk
diantaranya lele-lele bule berukuran cukup besar, tampak berenang-renang di
Sendang Seliran Lanang Makam Raja-Raja Mataram. Meskipun airnya tidak keruh
namun tidak pula jernih sehingga kita dapat melihat ikan - ikan tersebut.
Perjalanan kami pada hari itu cukup dapat dikatakan
sangat spritual, dan kami merasa beruntung karena kami dapat mengunjugi dan
berziarah di makam raja - raja yang memiliki andil besar dalam pendirian
kerajaan Mataram Islam. Selain itu, banyak pelajaran dari kisah terdahulu yang
dapat kami ambil dan kami terapkan di kehidupan kami. Salam Budaya...
No comments:
Post a Comment